Sosiolog NTU: Kurva Corona akan Terus Naik di Indonesia

Jakarta, – Pandemik virus corona atau COVID-19 telah lebih dari setengah tahun menghantui kehidupan masyarakat dunia. Masyarakat pun terus bertanya-tanya kapan puncak pandemik dan kapan pandemik ini akan berakhir?

Profesor Sosiologi Bencana Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Sulfikar Amir mengatakan, jawaban soal puncak COVID-19 di Indonesia sebenarnya sederhana saja.

“Jawabannya sebenarnya simpel dan ini mungkin jadi kabar buruk buat kalian semua, bahwa kurva corona akan terus naik di Indonesia selama masih ada orang yang bisa tertular virus corona di Indonesia,” kata Sulfikar dalam akun YouTube pribadinya, SOCIOTALKING, yang diunggah pada Jumat (31/7/2020).

Baca Juga: Sejarawan: Pandemik COVID-19 Mirip Wabah Flu Spanyol 1918

1. Intervensi sosial adalah kunci utama penurunan kurva penularan virus corona

Sosiolog NTU: Kurva Corona akan Terus Naik di Indonesia

Sulfikar menjelaskan bahwa kurva atau penyebarannya sendiri adalah bentuk refleksi dan respons suatu masyarakat pada pandemik. Itulah yang menyebabkan kurva di negara lain bisa menurun.

“Pandemik itu sebenarnya fenomena sosial karena penyebaran penyakit itu sangat dipengaruhi interaksi sosial. Jadi pola perilaku masyarakat, cara mereka berinteraksi, kemudian respons pemerintah dan sebagainya,” kata dia.

Jadi menurutnya, kurva virus corona baru bisa melandai atau turun jika ada intervensi sosial yang efektif. Kata kunci dari keberhasilan penanganan virus corona atau turunnya kurva penyebaran adalah intervensi sosial.

Baca Juga: Angka Kematian Positif COVID-19 di Balikpapan Tertinggi di Kaltim

2. Intervensi sosial di Indonesia tidak efektif

Sosiolog NTU: Kurva Corona akan Terus Naik di IndonesiaWarga berolahraga saat hari bebas berkendara atau Car Free Day (CFD) di kawasan Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, Minggu (21/6/2020). Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi DKI Jakarta memisahkan jalur untuk pesepeda, olahraga lari, dan jalan kaki saat CFD pertama pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi. ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Dia mencontohkan, Tiongkok, Italia, Selandia Baru atau Singapura bisa menurunkan kurva virus corona karena intervensi sosial dari pemerintah dan masyarakatnya di masing-masing negara tersebut.

“Dan intervensi sosial itu sangat efektif untuk menurunkan laju penularan,” ujarnya.

Di Indonesia, kata Sulfikar, kurva penularan virus corona akan terus naik karena intervensi sosial saat ini belum terbilang efektif, bahkan menurutnya nyaris tidak ada.

“Karena di Indonesia itu belum pernah mengerjakan PR-nya dengan benar, dan ketika PR-nya sendiri belum selesai tiba-tiba mau masuk ke kehidupan normal (new normal),” kata dia.

3. Pemerintah lebih terfokus pada pertumbuhan ekonomi

Sosiolog NTU: Kurva Corona akan Terus Naik di IndonesiaAntrean di Stasiun KRL Citayam, Senin (6/6/2020) (/Dwifantya Aquina)

Menurut Sulfikar, pemerintah justru lebih fokus mengurus pertumbuhan ekonomi dibandingkan menekan pertumbuhan kasus virus corona yang terus meningkat dari hari ke hari. Ia menilai, khususnya pemerintah, seperti memiliki suatu asumsi yang menganggap bahwa COVID-19 itu akan hilang sendiri.

Ia meminta pemerintah tak hanya fokus pada masalah ekonomi dan lebih serius menekan pertumbuhan kurva penularan virus corona. Menurutnya, jika kurva ini naik maka pertumbuhan ekonomi akan turun.

“Mereka menganggap COVID-19 ini seperti banjir, jadi akan surut sendiri, jadi intervensi sosial yang dilakukan juga setengah hati dan karena pemerintah itu menganggap virus itu akan hilang sendiri, maka mereka menunggu sambil mengurusi persoalan ekonomi,” kata Sulfikar.

Baca Juga: Waspada! Satu Per Satu Petugas Medis di Kaltim Terjangkit COVID-19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *