[UPDATE] Hari Raya Idul Adha, Kasus COVID-19 Naik 2.040 

Jakarta, – Satgas Penanganan COVID-19 meliris data perkembangan COVID-19 di Indonesia per Jumat (31/7/2020). Terjadi penambahan 2.040 kasus COVID-19 pada Hari Raya Idul Adha 1441H. Dengan demikian total kasus COVID-19 mencapai 108.376.

“(Sebanyak) 37.338 orang masih sedang dalam perawatan tim medis,” tulis Satgas Penanganan COVID-19 di website covid19.go.id yang dikutip pada Jumat pukul 15.24 WIB.

DKI Jakarta menjadi provinsi dengan kasus baru terbanyak yaitu 430. Disusul dengan Jawa Timur dengan 317 kasus baru hari ini.

1. Sebaran COVID-19 di 34 provinsi di Indonesia

Hari Raya Idul Adha, Kasus COVID-19 Naik 2.040 “] /Candra Irawan

Virus corona telah menyebar di 34 provinsi di Indonesia. Berikut ini data rincian penyebarannya:

1. Aceh 415 kasus
2. Bali 3.407 kasus
3. Banten 1.835 kasus
4. Bangka Belitung 193 kasus
5. Bengkulu 217 kasus
6. Yogyakarta 674 kasus
7. DKI Jakarta 21.399 kasus
8. Jambi 162 kasus
9. Jawa Barat 6.532 kasus
10. Jawa Tengah 9.516 kasus
11. Jawa Timur 22.089 kasus
12. Kalimantan Barat 387 kasus
13. Kalimantan Timur 1.426 kasus
14. Kalimantan Tengah 1.729 kasus
15. Kalimantan Selatan 6.098 kasus
16. Kalimantan Utara 283 kasus
17. Kepulauan Riau 447 kasus
18. Nusa Tenggara Barat 2.065 kasus
19. Sumatera Selatan 3.417 kasus
20. Sumatera Barat 948 kasus
21. Sulawesi Utara 2.580 kasus
22. Sumatera Utara 3.931 kasus
23. Sulawesi Tenggara 782 kasus
24. Sulawesi Selatan 9.422 kasus
25. Sulawesi Tengah 207 kasus
26. Lampung 255 kasus
27. Riau 445 kasus
28. Maluku Utara 1.530 kasus
29. Maluku 1.093 kasus
30. Papua Barat 433 kasus
31. Papua 3.059 kasus
32. Sulawesi Barat 230 kasus
33. Nusa Tenggara Timur 145 kasus
34. Gorontalo 1.015 kasus.

Dalam proses verifikasi lapangan 10 kasus.

Baca Juga: [LINIMASA] Perkembangan Terbaru Vaksin COVID-19 di Dunia

2. COVID-19 terbukti menular melalui airborne

Hari Raya Idul Adha, Kasus COVID-19 Naik 2.040 “] Foto aerial kendaraan melintas di kawasan Semanggi, Jakarta, Jumat (27/3/2020). Sejumlah ruas jalan utama ibu kota lebih lengang dibandingkan hari biasa karena sebagian perusahaan telah menerapkan bekerja dari rumah guna menekan penyebaran virus Corona atau COVID-19 (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Soebandrio mengungkapkan penyebaran virus COVID-19 dapat melalui udara dan hal itu melalui bukan suatu temuan baru. Bahkan, Amin sudah mencurigai sejak awal kemunculan COVID-19.

“Jika ada droplet kemudian ada aliran udara yang cukup kuat (virus COVID-19) bisa terbawa angin dan terbang karena volumenya jadi lebih kecil, relatif ringan karena kadar airnya berkurang,” ujarnya saat dihubungi , Selasa 7 Juli 2020.

Amin menerangkan virus COVID-19 bisa keluar bersama droplet (cairan) yang dihasilkan ketika bersin atau batuk. Droplet yang menempel pada benda-benda yang tersentuh orang lain bisa menularkan virus-virus tersebut.

Namun, sebagian virus menyebar lewat udara (airborne) saat droplet berubah menjadi partikel yang lebih kecil dan mudah menyebar di udara.

“Sebagian besar memang menular melalui droplet, tapi dalam situasi tertentu bisa. Seperti di rumah sakit saat dilakukan prosedur pemasangan ventilator, pengisapan lendir, atau terapi nebulizer,” jelasnya.

Bahkan, menurut Amin, sudah ada bukti dari pengamatan bahwa virus COVID-19 menular melalui airbone. Dia mencontohkan kasus di suatu restoran yang tertutup, misal pengunjung di meja yang bersin maka virus bisa saja satu ruangan kena.

Lanjutkan membaca artikel di bawah Editor’s picks

  • Pengakuan Korban Fetish Kain Jarik, Awalnya Kasihan Malah Dilecehkan
  • Heboh Rambut Pasha ‘Ungu’, Kemendagri: Gak Ada Aturannya, Gak Masalah
  • Muhammadiyah: Nadiem Datang Minta Maaf dan Janji Evaluasi POP

“Ini juga bisa terjadi di ruang kerja, di perkantoran dengan AC split serta tertutup maka droplet bisa terembus udara dan hanya berputar satu ruangan,” imbuhnya.

3. Kasus positif COVID-19 di dunia mencapai 17,4 juta orang

Hari Raya Idul Adha, Kasus COVID-19 Naik 2.040 “] Ilustrasi rapid test. /Zainul Arifin

Mengutip situs worldometers.info, hingga 31 Juli 2020 pukul 15.30 WIB, secara global terdapat 17.489.839 orang terpapar virus corona. Kasus terbanyak masih berada di Amerika Serikat dengan 4.634.985 kasus.

Dari 17,4 juta kasus itu, sebanyak 677.024 di antaranya meninggal dunia. Sementara pasien yang sembuh mencapai 10.952.345 orang.

4. Pencegahan dan gejala COVID-19

Hari Raya Idul Adha, Kasus COVID-19 Naik 2.040 “] Tes swab di pasar Rapak Balikpapan, Kamis (30/7/2020) /Haikal

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang lebih dikenal dengan nama Virus Corona adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini bisa menyerang siapa saja, baik bayi, anak-anak, orang dewasa, lansia, ibu hamil, maupun ibu menyusui. Infeksi virus ini disebut COVID-19 dan pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Tiongkok, pada akhir Desember 2019. Virus ini telah menyebar ke wilayah lain di Tiongkok dan ratusan negara, termasuk Indonesia.

Coronavirus adalah kumpulan virus yang bisa menginfeksi sistem pernapasan. Pada banyak kasus, virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan, seperti flu. Namun, virus ini juga bisa menyebabkan infeksi pernapasan berat, seperti infeksi paru-paru (pneumonia), Middle-East Respiratory Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS).

Hingga saat ini belum ada obat atau vaksin yang mampu membunuh Virus Corona. Kendati, persentase kesembuhan COVID-19 cukup tinggi. Di beberapa negara seperti Vietnam angka kesembuhannya mencapai 100 persen. Bahkan, beberapa pakar kesehatan menyebut COVID-19 bisa sembuh sendiri jika imun penderitanya bagus. Sebaliknya, rata-rata angka kematian akibat corona berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per Selasa 17 Maret 2020, sebesar 4,07 persen. Sementara di Indonesia, hingga Kamis 19 Maret 2020 mencapai 8,37 persen.

Bagaimana gejala virus corona? Infeksi COVID-19 bisa menyebabkan penderitanya mengalami gejala flu, seperti demam, pilek, batuk, sakit tenggorokan, dan sakit kepala atau gejala penyakit infeksi pernapasan berat, seperti demam tinggi, batuk berdahak bahkan berdarah, sesak napas, dan nyeri dada. Tapi dalam beberapa kasus, pasien positif Corona tak menunjukkan gejala khusus.

Hari pertama, penderita virus corona mengalami demam atau suhu tinggi, nyeri otot, dan batuk kering. Sebagian kecil diare atau mual beberapa hari sebelumnya. Ada juga yang hilang penciuman. Hari kelima, penderita kesulitan bernapas, terutama penderita lansia atau mereka yang memiliki penyakit kronis.

Hari ketujuh, menurut penelitian Universitas Wuhan, gejala yang dialami penderita mulai semakin parah. Penderita biasanya perlu dirawat di rumah sakit. Hari kedelapan, penderita dengan kasus yang parah memperlihatkan sindrom gangguan pernapasan akut. Paru-parunya dipenuhi cairan dan kesulitan bernapas hingga menyebabkan gagal napas.

Hari ke-10, penderita dengan kasus ringan mengalami sakit perut dan kehilangan napsu makan. Hanya sebagian penderita yang meninggal dunia. Hari ke-17, rata-rata penderita sembuh dari virus corona dan keluar dari rumah sakit.

Bagaimana mencegah virus corona? Sering Mencuci tangan pakai sabun, gunakan masker, mengonsumsi gizi seimbang, hati-hati kontak dengan hewan, cukup istirahat dan olahraga, jangan konsumsi daging mentah, bila batuk, pilek, dan sesak segera ke fasilitas kesehatan.

Jika membutuhkan beberapa nomor telepon terkait virus corona, kamu bisa menghubungi beberapa nomor penting ini, yakni Hotline kemenkes (+62 812 1212 3119, 119 ext 9, (021) 521 0411), atau mengunjungi beberapa situs terkait virus corona antara lain kemkes.go.id, arcgis.org, jakarta.go.id, healthmap.org, jabarprov.go.id, cdc.gov, jhu.edu. Kamu juga bisa mengunjungi web resmi pemerintah daerah untuk mencari informasi terkait perkembangan virus corona di daerah kamu tinggal.

Baca Juga: [LINIMASA-3] Perkembangan Terkini Pandemik COVID-19 di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *