Jakarta Belum Aman COVID-19, Ekonom Sarankan PSBB Diperketat Lagi

Jakarta, – Jumlah kasus virus corona atau COVID-19 baru terus bertambah, tak terkecuali di Jakarta. Peningkatan tersebut dinilai perlu diwaspadai.

Menurut Ekonom INDEF Bhima Yudhistira, pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadi salah satu penyebab kian besarnya penambahan jumlah kasus. Karena itu, dia menyarankan agar PSBB diperketat lagi.

“Memang akan ada dampak ke ekonomi, jadi sebaiknya PSBB yang ketat juga ditunjang oleh perluasan bansos dan percepatan realisasi stimulus fiskal,” ujar dia kepada , Kamis 30 Juli 2020.

1. Masyarakat dan pemerintah masih kurang disiplin

Jakarta Belum Aman COVID-19, Ekonom Sarankan PSBB Diperketat LagiWarga berbelanja pakaian yang dijual pedagang kaki lima di Jalan Jati Baru II, Tanah Abang, Jakarta, Senin (18/5). (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

Di sisi lain, baik masyarakat maupun pemerintah kerap kurang disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan. Bila terus dibiarkan, jumlah penambahan kasusnya dikhawatirkan akan terus melonjak signifikan.

Hal ini tentu akan menghambat upaya pemerintah dalam mendorong pemulihan ekonomi di kuartal III dan IV 2020.

“Karena kalau gak ditekankan disiplinnya dengan PSBB, jumlah kasus bisa semakin naik. Apalagi ada kluster perkantoran. Ujungnya pemulihan ekonomi bisa bertambah lama,” ucap Bhima.

Baca Juga: Kasus COVID-19 Pecah Rekor Lagi, Anies: Itu karena Strategi Pemprov

Lanjutkan membaca artikel di bawah Editor’s picks

  • Menteri ESDM Buka Suara Soal Pegawainya yang Positif COVID-19
  • Dear Pemilik Kartu Kredit, Perhatikan Hal Ini Ya Biar Gak Tekor
  • Satgas: Aktivitas Fisik Tetap Diperlukan agar Ekonomi Pulih

2. Jakarta belum aman dari COVID-19

Jakarta Belum Aman COVID-19, Ekonom Sarankan PSBB Diperketat LagiSejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Lenteng Agung, Jakarta, Jumat (15/5/2020) (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Diberitakan sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan Jakarta belum aman dari virus corona. Sebab, persentase positivity rate atau perbandingan total kasus dengan yang diperiksa masih di atas syarat aman organisasi kesehatan dunia (WHO).

“Secara kumulatif, nilai positivity rate kita adalah 5,2 persen, ini di bawah angka rata-rata nasional sebesar 12,3 persen. Ini menunjukkan bahwa nilai positivity rate di Jakarta itu masih sedikit di atas rekomendasi ideal WHO yaitu 5 persen atau di bawahnya. Tapi ini masih jauh di bawah batas maksimal yang pernah disampaikan WHO yaitu 10 persen, jadi maksimal 10 persen, idealya 5 persen, kita 5,2 persen. Apakah kemudian Jakarta aman? Tidak, belum,” ujar Anies melalui channel YouTube Pemprov DKI Jakarta.

3. Anies ungkap empat klaster COVID-19 di Jakarta

Jakarta Belum Aman COVID-19, Ekonom Sarankan PSBB Diperketat LagiGubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan (/Aryodamar)

Anies sebelumnya telah mengungkapkan ada empat kelompok klaster di Jakarta yang terpantau sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi dilaksanakan pada 4 Juli 2020. Salah satu klaster itu adalah perkantoran.

“Klaster terbesar otomatis pasien rumah sakit itu 45,26 persen. Kedua, pasien komunitas 38 persen, mereka yang berada di lingkungan kita. Lalu, di pasar itu 6,8 persen, pekerja migran 5,8 persen, dan sisanya dari perkantoran,” ujar Anies.

Baca Juga: [BREAKING] PSBB Transisi Jakarta Diperpanjang Hingga 13 Agustus 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *