PDIP Soal Teror Molotov: Kami Tidak Kenal Mundur dan Takut

Kantor Pengurus Anak Cabang (PAC) PDIP Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, dilempar bom molotov, Selasa (28/7) sekitar 02.30 WIB. Belum diketahui siapa dan apa motif pelaku pelemparan tersebut.

DPP PDIP menyatakan tindakan tersebut perbuatan orang pengecut.

“PDI Perjuangan menentang berbagai bentuk teror. Pelemparan bom molotov adalah tindakan pengecut, dan memiliki motif ideologis,” kata Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Rabu (19/7).

Hasto mengatakan, serangan molotov ke kantor PAC adalah serangan atas demokrasi, serangan terhadap kemanusiaan, dan serangan atas tatanan kehidupan masyarakat yang mendambakan hidup tenteram.

Dia menegaskan, PDI Perjuangan sangat kokoh di dalam memegang teguh Pancasila, UUD NRI tahun 1945, NKRI, dan kebinnekaan Indonesia.

“Karena itulah terhadap aksi teror tersebut, tidak akan pernah menyurutkan semangat juang kami,” kata Hasto, Rabu (29/7).

“Terlebih atas penghormatan masyarakat Indonesia yang menempatkan PDI Perjuangan sebagai Partai Nasionalis Soekarnois. PDI Perjuangan partai grass roots, tidak kenal mundur dan takut,” lanjut dia.

1 dari 3 halaman

Tetap Tenang

Dia pun meminta akar rumput PDIP tetap tenang menyikapi masalah ini. Dia meminta kader terus bekerja keras dan membantu rakyat di dalam ikut menjaga keamanan dan ketentraman masyarakat, tanpa kecuali.

Menurut dia, tindakan teror tidak boleh dibiarkan terjadi. Indonesia adalah negara hukum. Di sisi lain, bangsa Indonesia memiliki falsafah hidup yakni Pancasila.

“Masyarakatnya hidup rukun, penuh toleransi dan mendambakan keharmonian hidup. Karena itulah mereka yang telah mengganggu ketentraman masyarakat harus ditindak, dan hukum tidak boleh kalah dengan berbagai bentuk aksi teror yang anti ketuhanan dan anti kemanusiaan tersebut,” tambah Hasto lagi.

Karenanya, PDIP menginstruksikan seluruh simpatisan, anggota, dan kader Partai untuk tetap tenang.

“Terus rapatkan barisan dan memegang teguh nilai Satyam Eva Jayate, bahwa kebenaranlah yang akan menang,” pungkasnya.

2 dari 3 halaman

Kronologi Molotov

Ada tiga bom molotov yang dilempar ke kantor di Jalan Cikopo Selatan, Desa Gadog, Kecamatan Megamendung, Bogor. Bom molotov itu dirangkai dalam botol bekas minuman energi yang berisi bahan bakar bensin.

“Dari tiga bom molotov yang dilempar, satu botol enggak pecah. Ditemukan di halaman depan kantor,” kata Wakil Ketua Bidang Politik Hukum dan HAM DPC PDIP Kabupaten Bogor, Rosenfield Panjaitan ditemui di lokasi.

Aksi pelemparan bom molotov terhadap rumah pribadi Rosenfield yang dijadikan Kantor Sekretariat PAC Megamendung ini terjadi saat dia tertidur lelap.

“Menurut keterangan polisi , dilihat dari CCTV depan rumah adik saya, kejadiannya jam 02.30 WIB. Tapi saya engga tahu rekamannya karena dibawa polisi,” terang Rosenfield.

Kejadian pelemparan bom molotov baru diketahui setelah adiknya datang untuk mematikan lampu sekitar pukul 05.00 WIB. Setelah beranjak dari tempat tidur, Rosenfield melihat kaca jendela depan retak dan berwarna hitam.

“Saya lihat kaca kok retak dan gelap. Setelah diperhatikan di dinding dan lantai juga gosong seperti bekas terbakar,” terang dia.

3 dari 3 halaman

Selain itu, ditemukan secara terpisah serpihan botol dan botol bekas minuman yang masih utuh di sekitar halaman kantor.

“Satu masih utuh, hanya saja sudah terbakar. Sudah ga ada bahan bakarnya,” kata dia.

Karena penasaran, Rosenfield kemudian bergeser ke samping kantor dan ternyata ia kembali menemukan bagian belakang mobilnya gosong seperti bekas terbakar.

“Selang motor yang di parkir di belakang mobil juga terbakar. Di situ juga banyak pecahan botol yang sudah terbakar,” terangnya.

Karena diduga terjadi pelemparan bom molotov, ia memberitahu adiknya untuk melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian setempat.

“Kayanya kita dilempar bom molotov. Terus saya minta adik saya lapor ke polisi,” kata dia.

Selama ini, baik Rosenfield maupun kader PAC PDIP Megamendung tidak memiliki masalah baik di internal partai, dengan partai lain maupun organisasi kemasyarakatan (Ormas) yang ada di kecamatan itu.

“Ga ada, dari dulu hubungan saya pribadi maupun kader PDIP dengan warga sekitar baik-baik saja,” terangnya.

[rnd]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *