3.000 Nakes Wafat Akibat Corona, Amnesty: Negara Harus Tanggung Jawab

Jakarta, – Amnesty International mencatat, lebih dari 3.000 tenaga kesehatan (nakes) di 79 negara meninggal dunia saat mereka menjalankan tugas selama pandemik COVID-19 berlangsung.

Dalam laporan berjudul Exposed, Silenced, Attacked: Failures to Protect Health and Essential Workers During The COVID-19 Pandemic , Amnesty menyebut, angka itu sangat mungkin di bawah yang sebenarnya karena banyak yang tidak dilaporkan.

Para nakes juga mempertaruhkan kesehatan mereka sendiri dengan merawat pasien tanpa Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai. Berbagai pemberitaan mengungkap bagaimana nakes harus menggunakan jas hujan berbahan dasar plastik ketika bertugas. Lainnya terpaksa memakai masker melebihi durasi aman yang disarankan. 

Baca Juga: Akibat Pasien Tak Jujur, 23 Tenaga Medis RSUD Cilegon Positif COVID-19

1. Mayoritas nakes yang meninggal berada di Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat

3.000 Nakes Wafat Akibat Corona, Amnesty: Negara Harus Tanggung Jawab (Dok./Istimewa)

Melalui pemantauan dan interviu, Amnesty menemukan setidaknya ada 545 nakes di Rusia, 540 nakes di Inggris, dan 507 nakes di Amerika Serikat yang meninggal akibat terpapar virus corona.

Nakes di Brazil dan Meksiko juga tak kalah bernasib malang, dengan masing-masing mencatatkan sebanyak 351 dan 248 kematian selama pandemik.

Tak hanya persoalan PPE yang membuat banyak nyawa melayang. Dengan tidak berkurangnya jumlah pasien COVID-19 yang masuk, otomatis beban kerja para nakes kian bertambah. Apalagi, di banyak tempat sampai terjadi kekurangan staf sehingga jam kerja mereka semakin panjang.

Pada saat yang sama, mereka tidak mendapatkan pendapatan yang sesuai, bahkan ada juga laporan pengurangan gaji. Berlapisnya persoalan yang dihadapi para nakes, mulai dari ancaman kesehatan hingga melambungnya jumlah pasien yang ditangani, membuat mereka stres, gelisah, dan di beberapa kesempatan sampai menyebabkan kematian.

“Masalah besarnya bagi saya adalah betapa lelahnya kami semua buru-buru menangani pasien satu ke pasien selanjutnya, yang mengakibatkan banyak di antara kami tak sengaja menyentuh wajah dan membuat kami terpapar virus,” kata seorang nakes dari Afrika Selatan kepada Amnesty International.

2. Nakes berhak memprotes pemerintah karena merasa tidak dilindungi

3.000 Nakes Wafat Akibat Corona, Amnesty: Negara Harus Tanggung Jawab Tenaga kesehatan di New Delhi, India, sedang beristirahat pada 10 Juli 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Danish Siddiqui Lanjutkan membaca artikel di bawah Editor’s picks

  • Putra Ketiga Mbah Moen, Gus Kamil, Meninggal Dunia di Rembang
  • Ungkap Kasus Pembunuhan Editor Metro TV, 20 Saksi Diperiksa Maraton
  • Survei: Gen Z dan X Paling Banyak Konsumsi Internet Selama Pandemik

Saat mengalami serangkaian kejadian di mana keselamatan dan kesejahteraan mereka tak diperhatikan padahal situasinya sangat krisis, maka wajar ketika para nakes mengeluh dan protes kepada otoritas rumah sakit serta negara.

Konsekuensi yang dihadapi rupanya tidak kalah buruk. Berdasarkan catatan Amnesty International, setidaknya ada 31 negara di mana para nakes protes atau mengancam melakukannya. Di beberapa negara, mereka masih harus menghadapi konsekuensi balas dendam atas tindakan tersebut. 

Contohnya di Mesir, ada sembilan nakes yang ditahan sepihak antara Maret hingga Juni. Mereka dituduh “menyebarkan berita palsu” dan terorisme. Melansir AP , ada seorang dokter yang ditangkap setelah menulis sebuah artikel berisi kritik terhadap sistem kesehatan Mesir.

“Setiap hari saya pergi bekerja, saya mengorbankan diri saya sendiri dan seluruh keluarga saya,” kata seorang dokter di Kairo yang menolak mengidentifikasi diri karena takut atas keselamatannya. “Kemudian, mereka menangkap kolega-kolega saya untuk mengirimkan pesan kepada kami.”

Tindakan sewenang-wenang tersebut adalah sebuah kesalahan. Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid menegaskan, para nakes berhak protes, bahkan mogok kerja jika merasa tidak mendapatkan perhatian yang selayaknya.

“Hanya karena menyampaikan keprihatinan mereka terkait kesehatan, tidak boleh ada pembalasan dari negara,” ujar Usman saat konferensi pers virtual, Senin 13 Juli 2020.  

3. Negara harus bertanggung jawab

3.000 Nakes Wafat Akibat Corona, Amnesty: Negara Harus Tanggung Jawab Perawat menangani pasien di Poli Pinere RSUD Arifin Achmad, Kota Pekanbaru, Riau, pada 9 Juli 2020. ANTARA FOTO/FB Anggoro

Menurut Amnesty, maka sudah sewajarnya menuntut negara untuk bertanggung jawab menjamin keselamatan dan kesejahteraan para nakes di tengah krisis ini. Namun, Usman melihat bahwa pemerintah justru tidak menempatkan kesehatan sebagai prioritas utama.

Ia mengatakan, “pemerintah gagal dalam menjamin keselamatan tenaga kesehatan, gagal menjamin keselamatan masyarakat secara keseluruhan. Tampaknya masalah kesehatan dinomorduakan di bawah persoalan ekonomi.”

Sementara Ahmad Arif selaku co-founder Laporcovid19.org berpendapat, pemerintah lebih mementingkan ekonomi dengan menyebarluaskan kampanye normal baru yang tidak mengikuti pedoman Badan Kesehatan Dunia (WHO), sehingga tak heran bila korban terus berjatuhan.

Data Amnesty per 12 Juni 2020 menunjukkan, ada 878 nakes di seluruh Indonesia yang positif COVID-19. Dari jumlah itu, 66 dokter dan 23 perawat meninggal dunia. 

Baca Juga: 16 Tim Medis di RSUP Wahidin Makassar Terpapar COVID-19 Kurun 3 Hari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *